Cinta kok setengah-setengah ?? TOTALITAS !!!

— C I N T A —
- Neng, aku suka jadi security dari pada yg lain || kok bisa bang ? || biar bisa selalu jaga hatimu … ihiiir
Ada yang jatuh neng || apa ya bang ? || hatiku untuk si eneng …. ckckckck
- Malam minggu ada acara gak ? || mau kemana? || ikut kondangan yuk, biar cepet ketularan jadi pengantinya. xixixixi
Kalo lagi nge-gombal, gak habis-habis. Hmmm serasa dunia milik berdua.
Kita tidak asing dengan satu kata ini kan –CINTA-, yang biasa kita ucapkan atau kita rasakan. Kepada siapa cinta harus berlabuh ? yang selama ini ada di hati, kadang di pikiran atau kadang cinta itu muncul dan kita ucapkan …
Kita pernah mengagumi seseorang bukan ? baik pada usia matang, waktunya untuk berkeluarga atau ketika masih bau kencur, pasti pernah merasakan itu. Coba di tanya anak-anak muda sekarang, rata-rata dari mereka sudah punya “pasangan”. Apakah mereka sudah ber-cinta ? atau mari kita tanya diri kita, apakah ketika mengagumi seseorang ini sudah benar-benar cinta ? hmmm, jadi merenung …
Melihat dari sudut pandang lain …
Ketika kita sekarang ini masih mempunyai orang tua, kita ingin selalu membuatnya bahagia karena kita cinta dengan Beliau. Begitu juga kepada saudara-saudara kita dan tetangga, kita akan saling menghormati dan saling mencintai (dalam batasan syar’i agama) agar terwujud lingkungan bertetangga yang tenang dan damai (gak tawuran dan saling menggosip he he he).
Atau sekarang ini kita punya anak sebagai generasi penerus keluarga. Yang kita lahirkan, kita besarkan, kita didik dan nantinya kita sekolahkan, sampai kalau sudah tiba waktunya, anak kita akan dinikahkan. Itu semua kita berikan pasti dengan rasa ikhlas dan cinta kepada mereka.
Beberapa penggalan paragraf di atas memberikan contoh bagaimana seharusnya cinta berbicara. Kita yang sekarang sudah menyatakan cinta, memang seharusnya totalitas untuk memberikannya kepada yang kita cintai. Orang tua kepada anak, akan totalitas mencurahkan seluruh pikiran dan tenaga kepada anaknya dan keluarganya.
Sehingga kita tidak mempermainkan dan menganggap remeh tentang cinta. Atau bagi kita yang sekarang akan menyatakan cinta, jangan permainkan cinta kalau tidak bisa totalitas memberikanya. Karena akan ada yang tersakiti salah satu di antarnya. Siapa yang bisa menjamin ke depan kita akan berkeluarga. L sedih jadinya …
Ada sebuah pepatah yang bagus saya temukan di social media, “hormatilah wanita seperti kita menghormati dan memuliakan ibu kita. Begitu juga hormatilah para lelaki seperti kita menghormati dan memuliakan bapak kita”.
Saya ambilkan sebua definisi cinta menurut (alm) Rahmat Abdullah :
Ketika dia meyakini Dakwah adalah Cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari sisimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang apa yang kita cintai. Tentang segala sesuatu yang kita cintai. Lagi – lagi memang seperti itulah cinta, akan menyedot saripati energi yang kita miliki. Sampai tulang belulang kita. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak di seret-seret. Dan tubuh yang yang hancur lebur dipaksa berlari. (edit)
Memang kalo kita mau bercinta harus TOTALITAS !!!
Kita totalitas mencintai sesuatu yang sekarang sudah halal bagi kita, kalaupun masih menunggu … maka bersabarlah menyimpan cintamu.

Februari 8th, 2012 at 6:33 am
laik dis…..
cuma agak males koment klo hrs log in atau ada captcha dulu…migrasi wp aj
[Reply]
mastangguh Reply:
Februari 8th, 2012 at 12:36 pm
langsung bisa komen akh. tanpa log in, untuk kode/ beberapa kata dan angka itu untunk menghindari spam. oiya, blogdetik ini kerjasama dengan wordpress kayaknya, sama persis dasbor dll nya.
matur suwun masukanya
[Reply]
agus alfattan Reply:
Maret 17th, 2012 at 5:19 pm
Bukan kerjasama, tapi memang pakai wordpress. Kalau pakai wordpress kan kita nggak perlu kerjasama. Wordpress.org bukan wordpress.com. Kan subdomainnya unlimited, makanya dibuat untuk umum. Hehehe.
[Reply]
najwafahrini Reply:
Februari 8th, 2012 at 10:10 pm
migrasi ke WP? yang Wp aja pada migrasi ke blogdetik
[Reply]
agus alfattan Reply:
Maret 17th, 2012 at 5:20 pm
Contohnya mbak Rini dan Saya sendiri.
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 8:35 pm
Dalam kesadaran, kita bertutur, “Kesungguhan Cinta hanya milik-Nya”. maka ketinggian sebuah cinta, terukur dari seberapa rapatkah ia dengan sang pemilik cinta. Totalitas? justeru kalimat terakhir dari mastangguh mengerdilkan makna totalitas dalam cinta…
Better than none
[Reply]
Irvan Bukan Bachdim Reply:
Februari 8th, 2012 at 9:05 pm
karena Totalitas dalam cinta itu,
adalah
merujuk pada ikatan aqidah
-yang berbuah pada ukhuwah-
bukan sekedar hubungan sedarah…
atau bahkan bab-bab yang lebih rendah.
begitulah…
aku menafsirkan kutipan (diatas) Syaikhut Tarbiyah
KH Rahmad Abdullah
[Reply]
April 22nd, 2012 at 4:58 pm
diharapkan berpartisipasi…
http://najwafahrini.blogdetik.com/2012/04/22/kartinian-ala-blogdetik/
[Reply]